Djohan Riduan: Bakal Terjadi Lompatan Besar Pariwisata Babel

Ketua GIPI Babel Djohan Riduan Hasan saat memaparkan potensi pariwisata di kawasan KEK Tanjung Gunung yang dikelola PT Pan Semujur Makmur. Foto:IG

JELAJAH NUSA  – Ketua  Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung,  Djohan Riduan Hasan berkeyakinan bahwa terealiasinta Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) akan membawa lompatan besar bagi dunia pariwisata di Bangka Belitung. Potensi besar sedang menunggu di pulau Laskar Pelangi ini sekaligus menjadi penantian wisatawan mencanegara.

“Dengan diberlakukannya KEK maka akan mempercepat pengembangan pariwisata di Babel, khususnya Bangka yang memiliki beberapa potensi wisata alam. Saat ini masih minim infrastruktur sehingga investor masiih menunggu untuk berinvestasi,” kata Djohan dalam perbincangan dengan Jelajah Nusa, belum lama ini.

Menurut Djohan, para pelaku industri pariwisata sedang menunggu kepastian regulasi seperti KEK. Jika ini sudah berjalan maka mereka pun tak ragu untuk menanamkan investasinya di sektor pariwisata.

Djohan pun menyampaikan apresiasi kepada Menteri Pariwisata Arief Yahya yang begitu kuat mendorong  KEK untuk segera direalisasikan. Tentu semangat ini juga harus diikuti semua elemen masyarakat di Bangka.

Kemajuan pariwisata Indonesia memang terus dipantau Kementerian Pariwisata RI. Jumat (13/4) lalu,misalnya, Menteri Arief Yahya meninjau dua Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) sekaligus di Bangka. Yaitu KEK Tanjung Gunung yang memiliki luas total 385 hektare, dan KEK Sungai Liat dengan luas 273 hektare.

Menurut Menpar, kedua KEK tersebut diampu dua pengembang yang berbeda. PT Pan Semujur Makmur akan menggarap KEK Tanjung Gunung. Dengan nilai investasi tahap I mencapai Rp 1,58 triliun. Sedangkan usulan KEK Sungai Liat diampu oleh PT Pantai Timur Sungai Liat. Nilai investasinya mencapai Rp 5 triliun.

“Perhitungan return investasinya harus jelas. Karena, itulah yang pertama kali ditanyakan investor. Selanjutnya perizinan investasi juga harus dipermudah,” ujar Menpar.

Bukan tanpa alasan Menpar Arief mendorong Provinsi Babel memiliki KEK.  Perekonomian Babel saat ini sedang bertransformasi. Tambang yang awalnya sektor utama, mulai dialihkan ke pariwisata.

Perekonomian di Provinsi Babel pun relatif stagnan dalam empat tahun terakhir (2012-2016).

Lapangan usaha utama juga tetap didominasi perkebunan, kehutanan, dan perikanan (20,15%). Diikuti industri pengolahan (20,05%), dan pertambangan (11,05%). Sedangkan sektor pertambangan dan industri pengolahan menunjukkan penurunan peran.

“Pertambangan dan galian turun dari 15,36% (2012) menjadi 11,89% (2016), Industri pengolahan turun dari 24,33% menjadi 20,05% (2016). Justru yang naik hanya sektor transportasi dan akomodasi meningkat dari 5,66% (2012) menjadi 6,52% (2016),” ujar Menpar Arief.

Menteri Pariwisata Arief Yahya foto bersama dengan Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Erzaldi Rosman Djohan di objek wisata Tanjung Gunung, Pan Semujur. Foto:IG

Untuk itu, sektor pariwisata terus dikembangkan. Apalagi, menurut Menpar, pariwisata memiliki keunggulan dalam menjaga lingkungan. Hal ini sesuai dengan keinginan wisatawan jaman now. Yaitu tuntutan akan adanya destinasi yang menerapkan environment sustainability atau tourism sustainability.

“Hal ini turut mendorong lahirnya berbagai inovasi, partisipasi, dan kerjasama sektor publik maupun swasta untuk membangun destinasi wisata dengan menerapkan prinsip yakni ‘Semakin dilestarikan, semakin menyejahterakan,” ujarnya.

Lebih lanjut Menpar Arief menegaskan, Provinsi Babel dengan keunggulan lokasi yang memiliki leverage global, berpeluang membuat terobosan yang berarti. Caranya dengan melakukan transformasi tiga lapangan usaha utama tersebut.

Penurunan kontribusi sektor pertambangan harus bisa digantikan sektor lain. Tentunya yang mengedepankan pembangunan ramah lingkungan dan berkelanjutan. Misalnya, pariwisata yg telah terbukti lebih murah, lebih cepat memberikan hasil dan telah menjadi penyumbang devisa nasional nomor dua.

“Dan tentu saja harus dibarengi dengan penerapan destinasi pariwisata yang berkelanjutan, yakni ECE. Yaitu menjaga lingkungan (Environmental), memberdayakan budaya (Cultural) dan tetap memberikan benefit (Economic Value),” ujarnya.

(adh)

Share this Post:

Berita Terkait

Berita Lainnya