Penutupan Ruas Jalan Jadi “Kampanye Negatif” Bagi Pariwisata Kota Bandung

Hal senada juga dikemukakan Hotel Manager (HM) Favehotel  Braga Bandung Andri Novriandi bahwa sistem buka tutup jalan tersebut dinilai sebagai kebijakan yang reaktif, bukan preventif.

Seharusnya, jika pertimbangannya karena untuk mencegah kenaikan kasus Covid-19 cukup dengan melakukan pengetatan protokol kesehatan. Buat aturan yang tegas, dimana jika ada pelanggaran yang dilakukan diberikan sanksi hingga penutupan.

“Sekarang semua sentra bisnis diperbolehkan buka. Mal, restoran, tempat hiburan, perkantoran swasta masih jalan. Nah, kalau pemberlakuan penutupan jalan dimulai pukul 18.00 WIB, itu kan peak hours (jam sibuk) orang pulang kerja. Apa tidak kontra produktif ini,” kata Andri.

Pada dasarnya industri perhotelan sangat setuju dengan kebijakan pemerintah untuk terus menekan kasus Covid-19, dengan penegakan disiplin protokol kesehatan.

Namun, penutupan jalan cukup dirasakan pengaruhnya terhadap jalannya roda ekonomi di sektor perhotelan.

“Bagi kami, dampaknya sudah pasti ada. Booking hotel menjadi berkurang. Tidak semua tamu yang dari luar Bandung juga tau jalan-jalan tikus, karena Map hanya menujukan pada jalan protokol. Kami, masih ada jalan lain, bagaimana yang seperti Gino Feruci Braga Hotel yang sama sekali hanya mengandalkan jalan satu arah,” ujarnya.

Bagi perkembangan pariwisata di Kota Bandung, kebijakan penutupan jalan menjadi “kampanye negative”. Pengunjung jadi berpikir ulang untuk datang ke Bandung. Bertolak belakang dengan kebijakan, dimana bisnis diperbolehkan buka, hotel 24 jam, tetapi ada pembatasan pergerakan manusia.

Share this Post:

Berita Terkait

Berita Lainnya