Mie Glosor Menu Favorit Selama Ramadhan

Mie Glosor sebagai makanan khas Bogor selalu keluar di bulan ramadan seperti sekarang. Foto:IG

JELAJAH NUSA – Mie glosor salah satu menu favorit yang paling banyak dicari oleh masyarakat Kota Bogor, Jawa Barat sehingga omzet penjualan meningkat selama saat Ramadhan.

Hilda (70) warga Komplek PGRI Kota Bogor, saat ditemui Rabu (23/5/2018), mengatakan mie glosor menu wajib yang harus disajikan saat berbuka puasa di rumahnya.

Selama 15 tahun tinggal di Kota Bogor, Hilda dan anak-anaknya sudah terbiasa mengkonsumsi mie glosor setiap Ramadhan.

“Makan mie glosor saat berbuka lebih mengenyangkan. Saya baru makan nasi setelah tarawih,” katanya.

Hari pertama Ramadhan, ia telah membeli tiga kilogram mie glosor sebagai menu spesial berbuka. Total ada delapan orang di rumahnya, semuanya menyukai mie glosor.

“Mie glosor jadi hidangan khusus Ramadhan,” kata ibu asal Minang ini.

Penjualan Mie glosor tidak hanya selama Ramadhan, hampir setiap hari, mie yang terbuat dari sagu itu tersedia di pasaran. Tetapi, penjualan mie tersebut meningkat selama bulan puasa.

Emi dan Nanang Sonari, pasangan suami istri yang sudah 20 tahun menjual mie glosor di Pasar Anyar mengaku, selama Ramadhan bisa menjual 30 ton mie glosor.

Mie tersebut ia beli dari produsen di wilayah Sukabumi. Setiap hari ia menjual 500 kg sampai 1 ton mie glosor.

“Selama Ramadhan permintaan lebih banyak dari hari biasa, tahun lalu bisa habis 30 ton,” kata Nanang.

Mie Glosor khas Bogor ini juga bisa dihidangkan dengan menu lainnya,seperti bakwan dengan sambal kacang. Foto:IG

Nanang mengatakan, tahun ini pihak produsen tidak mampu memenuhi permintaan penjual karena keterbatasan bahan baku dan produksi. Penjual hanya mendapat jatah 20 ton untuk bulan ini.

Menurutnya, banyakan permintaan akan mie glosor membuat pasokan ke penjual berkurang. Produsen menyuplai ke sejumlah penjual lainnya yang juga banyak bermunculan.

Setiap hari Emi dan Nanang berjualan dari jam tiga pagi sampai jam enam. Tapi di Ramadhan, mereka menjual dari jam enam sampai siang.

Harga mie glosor per kilonya cukup murah yakni Rp6.000. Jika satu hari Emi mampu menjual 500 kg mie, maka dalam sehari ia bisa mengantongi uang Rp3 juta rupiah.

Menurut Nanang, sejak 1991 masuk Bogor, mie glosor sudah ada. Mie tersebut sangat dikenal sebagai makanan legendaris. Mie ini memiliki warna khas kuning terang yang berasal dari kunyit.

“Banyak yang suka mie glosor, karena makanan legendari, mie jadul yang selalau diminati,” katanya.

Mie glosor terbuat dari sagu aren, biasa diolah menjadi mie goreng dengan racikan bumbu sederhana dan ditambahi sayur. Glosor berasal dari kata kerja mie tersebut saat dikonsumsi, yakni cukup diserumput, atau tidak perlu dikunyah.

“Glosor itu seperti perosotan, tinggal ditelan, tidak perlu dikunyah, makanya namanya mie glosor,” kata Nanang.

Selain dibuat mie goreng, mie glosor juga bisa diolah menjadi kue sagu, ataupun pemepek makanan khas Palembang.

“Mie glosor bisa dibuat apa saja, asal kreatif saja. Karena mie terbuat dari sagu aren berkualitas,” kata Nanang.

Mie glosor tidak hanya ditemukan dalam kondisi mentah dijual di pasaran, tetapi di setiap pasar takjil Ramadhan banyak pedagang yang menjual mie glosor siap makan. Seperti di pasar takjil di Jl Indraprasta, Kota Bogor.

(adh/ant)

Share this Post:

Berita Terkait

Berita Lainnya