KLIKNUSAE.com — Tokoh senior Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Barat, Henry Husada, menilai pemaparan Dr Burhanuddin Abdullah dalam diskusi ekonomi di Golden Flower Hotel, Kota Bandung, Senin, 4 Mei 2026, memberikan gambaran komprehensif bagi pelaku usaha dalam menghadapi tantangan global saat ini.
Diskusi bertajuk “Mencari Solusi untuk Memperkuat Daya Tahan Sektor Usaha Domestik dalam Menghadapi Risiko Ekonomi Global dan Nasional” itu dihadiri sejumlah tokoh senior Kadin Jawa Barat.
Menurut Henry, pandangan yang disampaikan Burhanuddin sangat relevan bagi dunia usaha di tengah ketidakpastian global.
“Banyak pandangan beliau bisa menjadi acuan kita dalam menjalankan usaha di saat kondisi global belum menentu seperti sekarang ini,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Jawa Barat, Herman Muchtar.
Ia menilai kehadiran Burhanuddin dalam forum diskusi rutin yang digelar dua bulan sekali tersebut sangat tepat.
“Banyak pemikiran dan gagasannya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi sangat membantu para pengusaha. Khususnya dalam menentukan arah kebijakan perusahaan ke depan,” kata Herman.
Diskusi yang dipandu pengamat ekonomi Acuviarta Kartabi itu mengupas beragam persoalan ekonomi terkini.
Serta pentingnya merumuskan langkah strategis agar perekonomian nasional tidak terpuruk di tengah tekanan global.
Dalam pemaparannya, Burhanuddin—ekonom senior sekaligus mantan Gubernur Bank Indonesia—menekankan pentingnya memperkuat daya tahan sektor usaha domestik melalui pendekatan struktural dan kelembagaan.
Resiko Ekonomi Global
Langkah ini dinilai krusial untuk menghadapi risiko ekonomi global dan nasional yang diperkirakan masih membayangi sepanjang 2026.
Ia juga menyoroti peran strategis Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta koperasi sebagai tulang punggung perekonomian nasional.
Sektor ini menopang sekitar 60 persen aktivitas ekonomi dan menyerap hingga 97 persen tenaga kerja.
“Penguatan sektor ini krusial agar pertumbuhan ekonomi tidak bersifat elitis dan mengurangi kesenjangan,” ujar Burhanuddin.
Lebih jauh, ia menilai perekonomian Indonesia saat ini berada dalam kondisi stabil, namun cenderung mengalami inersia atau stagnasi struktural.
Untuk keluar dari situasi tersebut, diperlukan terobosan yang mampu mengurangi ketergantungan pada kekayaan alam dan upah murah.
Burhanuddin juga menekankan pentingnya keberanian pemerintah dalam mengambil kebijakan, memperkuat koordinasi lintas sektor, serta membangun kelembagaan yang solid.
“Kepercayaan terhadap institusi dan konsistensi arah kebijakan sangat penting untuk mendorong investasi dan inovasi,” katanya.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya kemandirian industri nasional, termasuk sektor pertahanan.
Menurutnya, diperlukan kebijakan jangka panjang yang terstruktur dan konsisten agar pembangunan industri tidak berjalan parsial. ***