Okupansi Hotel di Jawa Barat Terendah Dibanding 5 Kota Besar Ini

KLIKNUSAE.com – Okupansi hotel di Jawa Barat pada Libur Lebaran 2022 menduduki peringkat terendah, dibandingkan dengan 5 kota besar di Indonesia.

Meski di posisi paling bawah, namun pertumbuhan tingkat hunian kamar hotel di Jawa Barat pada momen Hari Raya Idul Fitri cukup baik.

Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Barat mengungkapkan keterisian kamar atau okupansi hotel selama libur Lebaran 1443 Hijriah mencapai 70 persen.

Kondisi tersebut diharapkan terus stabil hingga libur lebaran selesai pada pekan ini.

“Ya selama libur lebaran cukup bagus terutama pada lebaran hari pertama, kedua, tanggal 2, 3, 4 cukup bagus,” ujar Ketua PHRI Jabar Herman Muchtar dalam keterangan resminya yang diterima Kliknusae.com, Minggu 8 Mei 2022.

BACA JUGA: ‘Hantu-hantu’ Asia Afrika Ikut Kebagian Berkah di Libur Lebaran

Ia mengungkapkan saat ini pemerintah masih membatasi kapasitas hotel sebesar 75 persen. Sedangkan rata-rata okupansi hotel di Jawa Barat selama Lebaran mencapai 70 persen.

“Kalau kita bicara rata-rata masih mencapai target yang ditetapkan pemerintah itu kan hanya boleh 75 persen. Kalau rata-rata 70 persen bisa terisi,” katanya.

Herman mencontohkan hotel-hotel di Pangandaran yang dapat terisi hingga 90 persen di masa libur Lebaran sedangkan di Kota Bandung berkisar 70-75 persen.

Namun masih terdapat hotel yang memiliki okupansi di angka 40 sampai 50 persen.

“Jadi ada yang ramai kaya Pangandaran 90 persen terisi Bandung mungkin 70 persen terisi ada yang 75 persen, ada juga baru 40 sampai 50. Tergantung lokasi dan fasilitasnya,” katanya terkait okupansi hotel di Jawa Barat.

BACA JUGA: Bali Diserbu Wisatawan Domestik Selama Libur Lebaran 2022

Provinsi Lampung

Sementara itu, Sekretaris PHRI Lampung Friandi Hendrawan mengatakan, waktu-waktu yang tinggi kunjungan tamu atau peak season pada usaha penginapan adalah saat momen libur bersama.

“Dalam bisnis hotel, season-season yang peak (tinggi) itu adalah Idul Fitri, Nataru (Natal dan Tahun Baru), dan libur sekolah. Tetapi libur sekolah levelnya masih dibawah dua peak season itu,” ungkap Didi, sapaan akrab Friandi.

Terlebih lagi, menurutnya, euforia atau wujud exited dari masyarakat karena dua tahun sebelumnya tidak boleh melakukan aktivitas mudik atau liburan akibat pandemi Covid-19.

Diakuinya, sebelum pandemi Covid-19, saat momen peak season maksimal keterisian tamu berada di angka 96 sampai 97 persen. Namun kali ini sampai tembus 100 persen.

Tidak hanya hotel berbintang, namun juga nonbintang menurutnya mendapat porsi yang tak kalah maksimal. Terlebih pangsa pasar memiliki segmen berbeda-beda.

“Ada yang high (tinggi), ada yang middle class (kelas menengah),” jelas dia.

BACA JUGA: Catat, Sari Ater Hot Spring Ciater Buka Hingga Jam 24.00 di Libur Lebaran

Yogyakarta

Di Yogyakarta, pada Libur Lebaran kali ini mencatat pencapaian okupansi di 80 persen.

“Okupansi di tanggal  3, 4  Mei 2022 diangka 80,5 persen, di tanggal  5  Mei sedikit turun di angka 80 persen,  sedikit turun dan diperkirakan bertahan di angka 80 persen sampai Sabtu (7/5/2022),” ungkao Ketua BPD PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia) DIY, Deddy Pranowo Eryono.

Menurut Deddy kondisi ini sangat mengembirakan dan telah mendekati kondisi sebelum pandemi Covid-19 di Lebaran tahun  2019 yang okupansinya mencapai 90,5 persen.

“Bandingkan saat pandemi 2021 dan 2022 hotel dan restoran DIY tidak hanya remuk tapi ambyar dengan okupansi minim di bawah 30 persen,” ungkap Deddy

Saat ini rata dengan rata-rata lama tinggal (length of stay) di hotel selama 1,8 hari di DIY menunjukkan tamu hotel juga menyempatkan berwisata si Yogya sehingga pariwisata pulih kembali.

“Selain ke destinasi wisata juga berburu kuliner dan oleh-oleh khas Yogya,” ujarnya menyebutkan ada 238 hotel bintang dan 252 hotel non bintang anggota PHRI DIY.

BACA JUGA: Usai Lebaran, 100.516 Wisatawan Kunjungi Objek Wisata Gunung Kidul

Jawa Tengah

Wakil Ketua PHRI Jawa Tengah Benk Mintosih mengatakan, di luar dugaan, tingkat keterisian kamar hotel saat momen Hari Raya Idul Fitri ini bisa melebihi target yang diharapkan.

“Hotel, pusat oleh-oleh, destinasi wisata, semua panen setelah dua tahun lumpuh.

Untuk hotel, biasanya hari-hari seperti ini (lebaran 6-7) sudah mulai habis (check-out), tapi ini masih banyak,” kata Benk yang juga merupakan Ketua Umum Gabungan Industri Pariwisata (Gipi) Jateng.

Benk menyebutkan, pihaknya sebelumnya telah menargetkan tingkat keterisian kamar atau okupansi hotel di Jawa Tengah bisa mencapai 90 persen saat momen mudik lebaran.

Dalam realisasinya, ia menyebutkan, tingkat okupansi rata-rata mencapai 95 persen dengan puncak tertinggi pada hari ke-dua hingga hari ke-lima lebaran.

Dibandingkan tahun lalu, kata dia, terjadi peningkatan yang cukup menggembirakan bagi usaha perhotelan.

“Tahun lalu ramai-ramainya hanya empat hari. Sekarang ini masih ramai karena ada ASN yang libur.

Dibandingkan tahun lalu yang pasti income-nya lebih besar sekarang. Lebih baik 15-20 persen dari tahun lalu,” kata Benk.

BACA JUGA: Sleman Dapat Puluhan Ribu Kunjungan Wisata Saat Libur Lebaran

Jawa Timur

Dwi Cahyono Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Timur menyebutkan okupansi atau tingkat keterisian kamar hotel pada momen Lebaran 2022 mencapai 80 persen.

Dwi mengaku sempat heran. Seminggu menjelang lebaran arus mudik sudah mulai terlihat. Volume kendaraan mulai meningkat di berbagai ruas jalan antar kota.

Namun, tingkat keterisian kamar hotel baru 40 persen. Kondisi itu mulai membaik dua hari menjelang Lebaran. Okupansi hotel di Jawa Timur meningkat sampai 80 persen.

“Kalau dulu itu, seminggu sebelum lebaran penuh orang-orang booking. Tapi kali ini baru H-2. Mungkin masyarakat khawatir ya. Kalau telanjur booking tapi kemudian ada peraturan dan tiba-tiba cancel,” kata Dwi.

BACA JUGA: Pasca Libur Lebaran, Pemkot Bandung Gelar Rapid Test

Provinsi Banten

Ketua Harian Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Banten Ashok Umar mengatakan, okupansi hotel maupun penginapan tempat-tempat wisata di Banten mencapai 100 persen. Kondisi ini terhitung sejak H+2 Lebaran.

“Tingkat hunian itu rata-rata sudah 100 persen kemarin, membeludak memang,” kata Ashok.

“Kalau di City Hotel, itu malah tidak naik begitu signifikan, sekitar 60 persen saja, tapi kalau di pesisir itu cukup tinggi,” sambungnya.

Ashok menjelaskan, pada musim libur Lebaran 2022 ini sebanyak 3.800 kamar di kawasan wisata daerah Banten sudah terisi penuh.

Bahkan H+3 Lebaran, beberapa hotel menolak tamu karena kamar sudah penuh.

“Kami mengharapkan hal ini bisa menjadi salah satu daya dukung pemulihan ekonomi,” ujarnya.

Hal tersebut menurut Ashok juga menimbulkan multiplier effect untuk masyarakat sekitar kawasan wisata. Mereka pada akhirnya juga kecipratan untung dari jualan di kawasan wisatan.

“Mulai dari tukang emping, tukang ikan, tukang urut, dan lainnya. Mereka selama dua tahun ini kan sudah cukup berdampak dari pandemi. Syukur Alhamdulillah, berterima kasih sekali setelah ada cuti bersama ini,” tuturnya. ***

 

 

Share this Post:

Berita Terkait

Berita Lainnya