Ngaruwat Lembur Tradisi Warga Ciamis Mulai Dilirik Wisatawan

Makam Panjalu di Kabupaten Ciamis salah satu spot destinasi ziarah yang seriig dikunjungi. Foto:IG

JELAJAH NUSA – Masyarakat Ciamis,Jawa Barat masih memegang teguh tradisi keagamaan. Salah satunya adalah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Setiap tahun selalu digelar Ngaruwat Lembur yang sudah dilakukan turun temurun. Warga berziarah, berdoa dan makan bareng.

Belakangan Ngaruwat Lembur menjadi salah satu destinasi yang selalu ditunggu-tunggu. Tidak saja bagi masyarakat setempat,wisatawan pun sudah menaruh catatan wisata ziarah ini dalam agenda liburan.

tradisi Ngaruwat Lembur yang sudah dilakukan turun temurun. Dalam tradisi ini, masyarakat sekampung berziarah secara berjamaah di pemakaman, setelah itu botram (makan bersama) saling berbagi makanan.

Seperti yang terlihat, Kamis (22/11/2018) lalu, ratusan warga di Dusun Cipeuteuy, Desa Girilaya, Kecamatan Panawangan, Kabupaten Ciamis, mengikuti tradisi berziarah bersama ini di tempat pemakaman umum setempat. Tradisi ini dilaksanakan bertepatan dengan  awal bulan Rabiul Awal setahun sekali.

Mereka yang datang dari berbagai kalangan, ibu-ibu, tua, muda hingga anak-anak. Pertama, ratusan warga ini berangkat dari rumahnya menuju pemakaman tempat keluarga mereka disemayamkan.

Warga juga membawa bekal makanan yang sudah disiapkan sebelumnya dari rumah.Di lokasi pemakaman, warga melakukan tahlil dan doa bersama dipimpin oleh tokoh agama setempat.

Mereka mendoakan keluarga yang sudah tiada dan berdoa diberikan kelancaran dalam menjalani hidup. Setelah itu, warga menuju makam keluarga masing-masing untuk nyekar.

Tradisi tersebut diakhiri dengan makan bersama (botram) di sepanjang jalan menuju pemakaman.

Setiap warga membawa jenis makanan berbeda-beda, sehingga satu sama lain saling berbagi mencoba satu per satu makanan yang ada.

Tercipta suasana hangat saat saling berbagi dan khusyuk saat berdoa, menjadikan tradisi ini tetap dipertahankan sampai saat ini oleh masyarakar setempat.

“Tradisi ziarah ke makam keluarga secara bersama-sama satu kampung ini sudah dilaksanakan sejak dulu. Sudah turun temurun,” ujar Asep Ajat Hidayat, tokoh masyarakat setempat usai mengikuti tradisi.

Menurut Asep, warga yang hadir tidak hanya warga dari satu kampung tapi juga warga sekitar yang merupakan keturunan dari Dusun Cipeuteuy.

“Satu kampung semua ikut hadir. Jadi saat tradisi ini dilaksanakan, kampung kosong,” ucapnya.

Makna dari tradisi tersebut,lanjut Asep, untuk mengenang para leluhur yang telah berjasa. Karena atas jasa orang terdahulu, warga sekarang bisa menikmatinya. Untuk itu jangan melupakan sejarah.

“Banyak manfaat dari tradisi ini, terutama meningkatkan tali silaturahmi dan persaudaraan. Bisa saling berbagi. Juga ternyata kita semua memiliki ikatan keluarga dari para leluhur,” tutupnya.

(adh/dtk)

Share this Post:

Berita Terkait

Berita Lainnya