TNI Ungkap Dampak Konflik Timur Tengah terhadap Pariwisata Indonesia, Devisa Terancam Turun

KLIKNUSAE.com  — Eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, mulai menunjukkan dampak signifikan.

Khususnya terhadap sektor pariwisata dan perekonomian Indonesia.

Data yang disampaikan TNI mengindikasikan potensi penurunan kinerja ekspor hingga tergerusnya devisa pariwisata akibat gangguan konektivitas global.

Asisten Strategi Panglima TNI, Budhi Achmadi, menyatakan bahwa konflik tersebut berisiko menekan pangsa pasar ekspor Indonesia.

Termasuk sektor yang berkaitan dengan pariwisata seperti PT Etana (ETTA).

Gangguan jalur logistik, kenaikan biaya pengiriman, serta melemahnya permintaan global menjadi faktor utama.

“Gangguan konektivitas udara, khususnya rute via Timur Tengah, mengalami disrupsi. Bahkan pasar ETTA yang menyumbang 34,7 persen devisa pariwisata berpotensi menurun signifikan,” ujar Budhi dalam Webinar Nasional Tourism Under Fire, Senin 16 Maret 2026.

Kegiatan yang digagas oleh Ikatan Alumni NHI Bandung itu menjadi forum strategis yang mempertemukan pemangku kebijakan.

Arus Logistik

Pelaku industri, dan akademisi untuk membahas dampak eskalasi konflik global terhadap sektor pariwisata nasional.

Selain mengganggu arus logistik, konflik juga memicu lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) yang berdampak langsung pada meningkatnya biaya operasional maskapai penerbangan.

Imbasnya, harga tiket pesawat ikut terkerek naik dan berpotensi menekan minat perjalanan wisata internasional.

Sementara itu, Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, menegaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan langkah strategis untuk menjaga momentum pertumbuhan sektor pariwisata di tengah dinamika geopolitik global.

Menurutnya, meskipun pasar Eropa, Timur Tengah, dan Amerika hanya menyumbang 21,7 persen dari total kunjungan wisatawan mancanegara.

Sedangkan, kontribusi devisanya mencapai 34,7 persen karena berasal dari wisatawan dengan tingkat pengeluaran tinggi.

“Pada 2025, Indonesia mencatat 15,39 juta kunjungan wisatawan mancanegara dengan devisa sebesar 18,27 miliar dolar AS. Ini momentum yang harus dijaga,” kata Widiyanti.

Untuk mengantisipasi dampak konflik, Kementerian Pariwisata menyiapkan lima strategi mitigasi.

Pertama, diversifikasi pasar dengan memperkuat promosi ke kawasan Asia Tenggara, Asia Timur, Australia, dan India yang memiliki konektivitas lebih stabil.

Kedua, optimalisasi penerbangan langsung, termasuk rute Amsterdam–Jakarta dan Amsterdam–Denpasar oleh Garuda Indonesia, guna menjaga pasar wisatawan Eropa.

Strategi ketiga adalah penguatan promosi digital berbasis data agar kampanye lebih tepat sasaran.

Keempat, mendorong wisatawan nusantara untuk meningkatkan perjalanan domestik, terutama menjelang libur Lebaran.

Gangguan Geopolitik

Adapun strategi kelima adalah memperbanyak penyelenggaraan event pariwisata di wilayah perbatasan untuk menjaga pergerakan ekonomi daerah.

Pemerintah memperkirakan gangguan geopolitik ini dapat mengurangi kunjungan wisatawan mancanegara sekitar 4.700 hingga 5.500 orang per hari.

Jika berlanjut, potensi kehilangan devisa diperkirakan mencapai Rp157,9 miliar hingga Rp184,8 miliar per hari.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebutkan bahwa sektor pariwisata sebenarnya menunjukkan performa impresif sepanjang 2025.

Yaknu, dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai Rp945,7 triliun atau 3,97 persen.

Namun, ia mengingatkan bahwa ketahanan sektor ini kini diuji oleh tekanan global akibat konflik Timur Tengah.

“Indonesia perlu segera melakukan reformasi untuk mitigasi kerugian akibat krisis global dan membangun fondasi pariwisata yang tangguh dan berdaya saing,” ujarnya.

Airlangga menambahkan, pemerintah akan mendorong penguatan pasar domestik melalui konsep micro tourism.

Begitu pun pengembangan destinasi bagi digital nomad, serta strategi pemasaran yang menonjolkan Indonesia sebagai destinasi high-end dengan harga kompetitif.

Di tengah tantangan tersebut, pemerintah juga mencatat perkembangan positif dari pasar Asia Timur.

Sejumlah maskapai seperti China Airlines, Spring Airlines, dan China Southern Airlines berencana menambah frekuensi penerbangan dan membuka rute baru ke Jakarta dan Bali mulai Mei 2026.

“Dengan strategi yang tepat dan kolaborasi yang solid, sektor pariwisata Indonesia diyakini tetap mampu tumbuh berkelanjutan di tengah tekanan global,” kata Widiyanti. ***

Share this Post:

Berita Terkait

Berita Lainnya