Pariwisata Bali Mulai Terdampak Peran AS-Iran, Kunjungan Wisman Turun Dratis

KLIKNUSAE.com – Konflik yang memanas di kawasan Timur Tengah akibat perang yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran mulai menimbulkan efek berantai hingga ke Bali.

Penutupan sejumlah wilayah udara di kawasan tersebut membuat jalur penerbangan internasional terganggu.

Terutama bagi wisatawan Eropa yang selama ini menjadikan Dubai International Airport sebagai simpul transit utama menuju Pulau Dewata.

Praktisi pariwisata yang juga anggota DPRD Badung, I Wayan Puspa Negara, menilai ketegangan geopolitik itu menciptakan ketidakpastian bagi pergerakan wisatawan mancanegara.

Yang paling terdampak adalah wisatawan jarak jauh dari Eropa. Kelompok yang selama ini dikenal memiliki masa tinggal panjang dan pengeluaran relatif besar selama berlibur di Bali.

Gangguan konektivitas itu segera terasa di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.

Sejumlah penerbangan internasional dari dan menuju Bali terpaksa dibatalkan.

Di antaranya rute Bali Abu Dhabi milik Etihad Airways dengan nomor penerbangan EY-477 yang membawa 291 penumpang. Serta rute Bali–Doha milik Qatar Airways (QR-963) dengan 240 penumpang.

Pembatalan juga menimpa rute Denpasar–Dubai yang dioperasikan Emirates melalui penerbangan EK369 dengan 509 penumpang dan EK399 dengan 349 penumpang.

Begitupun dengan  penerbangan QR961 milik Qatar Airways dengan 229 penumpang.

Secara keseluruhan, tercatat 1.618 wisatawan asal Eropa dan Timur Tengah tertahan di Bali hingga Rabu, 4 Maret 2026, pukul 16.09 WIB.

Lama tinggal wisatawan

Situasi ini berpotensi memukul indikator penting industri pariwisata. Terutama rata-rata lama tinggal wisatawan atau length of stay.

“Peran apa dari pemerintah terhadap situasi seperti ini. Karena Bali selama ini hanya bertumpuh dari sektor pariwisata, dan warga Bali sekarang bingung mau usaha apa akibat konversi lahan lahan tanu jadi vila WAN,” tulisan pesan di medsos yang kini menyebar di jagat maya.

Jika konflik berkepanjangan, dampaknya bisa menjalar pada penerimaan Pajak Hotel dan Restoran di Badung. Serta pungutan wisatawan asing yang baru diberlakukan pemerintah daerah.

Sejumlah maskapai mencoba meredam situasi dengan menawarkan pengembalian dana atau penjadwalan ulang penerbangan.

Beberapa di antaranya juga menyediakan akomodasi sementara bagi penumpang yang terdampak.

Bagi Bali sebagai destinasi yang sangat bergantung pada konektivitas udara internasional, konflik global seperti ini menjadi pengingat.

Betapa rentannya industri pariwisata terhadap dinamika geopolitik dunia. Pemerintah dan pelaku industri didorong menyiapkan langkah mitigasi agar dampak ekonomi tidak meluas.

Di saat yang sama, pasar utama lain perlu terus dirawat. Wisatawan dari Australia, Selandia Baru, Tiongkok, Korea Selatan, Taiwan, India, serta kawasan Asia Tenggara tetap menjadi penopang penting arus wisatawan ke Bali.

Penguatan pelayanan, infrastruktur, keamanan, dan promosi dinilai menjadi kunci menjaga denyut pariwisata Pulau Dewata di tengah gejolak global. ***

Share this Post:

Berita Terkait

Berita Lainnya