Gubernur KDM Pilih Diksi Ini Saat Dies Natalis ke-58 UIN Sunan Gunung Djati

KLIKNUSAE.com – Di hadapan sidang senat terbuka Dies Natalis ke-58 UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi punya diksi sendiri.

Ia memilih berbicara tentang sesuatu yang kerap luput dari perhatian modern,  rasa.Di Aula Anwar Musaddad, Rabu, 8 April 2026, ia tidak mengutip teori, tidak pula merujuk pada kitab atau rumusan akademik yang rumit.

Dedi justru menempatkan “rasa” sebagai puncak dari seluruh bangunan peradaban Sunda

Sesuatu yang tak ditulis, tak dikodifikasi, tetapi hidup dalam laku sehari-hari.

“Peradaban tertinggi itu rasa,” ujarnya.

Sebuah pernyataan yang, dalam logika modern, terdengar ganjil. Namun bagi tradisi Sunda, justru di situlah letak keluhuran, pada kepekaan, bukan pada teks.

Dalam pandangan itu, manusia tak perlu selalu merumuskan nilai dalam bentuk aturan.

Cukup dengan melihat, mendengar, dan merasakan, seseorang diyakini mampu membedakan mana yang patut dilakukan dan mana yang sebaiknya dihindari.

Pengetahuan bukan semata hasil diskusi, melainkan hasil penghayatan.

Gagasan tersebut bukan berhenti pada tataran filosofis. Ia hadir dalam praktik hidup masyarakat Sunda yang sejak lama menjalin relasi intim dengan alam.

Rumah panggung, bambu sebagai bahan utama, hingga cara membangun yang menyesuaikan kontur tanah.

Menjadi contoh bagaimana rasa bekerja menghindari kerusakan, merawat keseimbangan.

Dedi menyinggung satu hal yang menurutnya menjadi batas moral paling tegas dalam budaya Sunda: larangan merusak alam.

BACA JUGA: Ikuti Jejak Ridwan Kamil, Gubernur Jabar KDM Akui Berutang Rp 2 Triliun Untuk Ini

Menebang Pohon

Dalam pandangan ini, manusia yang paling buruk bukanlah mereka yang melanggar hukum tertulis.

Melainkan mereka yang mengabaikan rasa yang menebang pohon hingga ke akar, yang menguras alam tanpa jeda.

Di tengah geliat pembangunan dan modernisasi, pesan itu terdengar seperti pengingat yang datang dari masa lalu, tetapi relevansinya justru terasa kini.

Peradaban, kata Dedi, tak selalu tumbuh dari teks dan kesepakatan, melainkan dari kesadaran yang hidup dalam diri.

Melalui momentum Dies Natalis itu, ia mengajak sivitas akademika untuk tidak sekadar menjadi penghasil pengetahuan, tetapi juga penjaga nilai.

Sebab di antara deretan teori dan inovasi, ada satu hal yang tak boleh hilang: rasa, sebagai kompas yang menuntun arah peradaban. ***

Share this Post:

Berita Terkait

Berita Lainnya