Ketika Ketakutan Menjadi Penentu Arah Perang (Timur Tengah)
Oleh: Adhi M Sasono, Editor in Chief
Selama figur seperti Donald Trump masih menyisakan rasa gentar terhadap kematian, ada keyakinan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah tidak akan dibiarkan mencapai titik tanpa kembali.
Cepat atau lambat, perang akan menemukan batasnya. Bukan semata karena diplomasi, tetapi karena naluri paling dasar manusia: mempertahankan hidup.
Di tengah pusaran konflik itu, terdapat perbedaan cara pandang yang tajam antara masyarakat Iran dengan Israel, Amerika Serikat, dan sebagian Eropa.
Iran, dengan akar peradaban Persia yang panjang, sering dipersepsikan memiliki fondasi spiritual yang kuat.
Sebuah keyakinan yang menempatkan kehidupan bukan sekadar urusan duniawi, melainkan bagian dari pengabdian kepada Tuhan.
Dalam kerangka itu, kematian tidak selalu dipandang sebagai akhir, melainkan sebagai jalan menuju kemuliaan.
Pandangan ini membentuk militansi yang sulit ditandingi oleh kekuatan yang bertumpu pada logika material semata.
Maka, kecanggihan teknologi militer yang dimiliki Barat tidak serta-merta menggentarkan mereka yang telah berdamai dengan risiko paling ekstrem, kehilangan nyawa.
Lebih dari empat dekade embargo yang dijatuhkan oleh Barat tidak melumpuhkan Iran. Sebaliknya, tekanan itu justru menempa kemandirian dan daya tahan.
Sebuah paradoks dalam politik global bahwa isolasi tidak selalu berarti kelemahan, melainkan bisa menjadi ruang pembentukan kekuatan yang berbeda jenisnya.
Di sisi lain, masyarakat Barat yang dibentuk oleh orientasi materialistik cenderung menempatkan kehidupan sebagai aset yang harus dijaga dengan segala cara.
BACA JUGA: TNI Ungkap Dampak Konflik Timur Tengah terhadap Pariwisata Indonesia, Devisa Terancam Turun
Keputusan Politik
Ketakutan akan kematian menjadi variabel penting dalam setiap keputusan politik dan militer.
Dalam konteks ini, perang bukan hanya soal menang atau kalah, tetapi juga soal seberapa besar risiko yang sanggup ditanggung.
Dari sudut pandang itu, konflik Timur Tengah sejatinya bukan sekadar pertarungan senjata, melainkan benturan nilai. Antara mereka yang memaknai hidup sebagai tujuan akhir, dan mereka yang melihatnya sebagai jalan menuju sesuatu yang lebih tinggi.
Bagi Indonesia, situasi ini menjadi cermin yang layak direnungkan. Ketahanan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari kekuatan militer, tetapi juga dari kemandirian.
Terutama dalam sektor pangan dan ekonomi. Gagasan berdikari yang pernah digelorakan oleh Soekarno kembali menemukan relevansinya di tengah dunia yang kian tak pasti.
Pada akhirnya, perang di Timur Tengah memang perlu disikapi dengan kewaspadaan, tetapi bukan dengan kepanikan berlebihan.
Justru di tengah ketegangan global, ada pelajaran yang bisa dipetik, bahwa kekuatan sejati sebuah bangsa terletak pada kemampuannya berdiri di atas kaki sendiri
Tanpa sepenuhnya bergantung pada dunia yang sewaktu-waktu bisa berubah arah. ***



