Kota Bandung Dorong Reposisi Pariwisata, Pemkot dan Pelaku Industri Bahas Strategi Peningkatan Daya Saing
KLIKNUSAE.com — Pemerintah Kota Bandung bersama pelaku industri pariwisata menyoroti perlunya reposisi strategi pengembangan wisata.
Tujuannya agar Kota Bandung kembali memiliki daya saing kuat di tingkat nasional.
Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Coffee Morning III yang digelar di STIEPAR YAPARI, Kamis, 12 Februari 2026, bersama Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Jawa Barat dan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan.
Dalam forum tersebut, para peserta menilai peningkatan kunjungan wisatawan ke Kota Bandung membutuhkan strategi komprehensif.
Dimana, mencakup penguatan aksesibilitas, promosi yang berkelanjutan, serta pembenahan destinasi wisata secara menyeluruh.
Pelaku industri menekankan bahwa pengembangan pariwisata Bandung perlu memiliki positioning yang jelas dan berdaya saing, sebagaimana kota destinasi lain seperti Yogyakarta yang dinilai konsisten menjaga identitas budaya sekaligus daya tarik wisatanya.
“Karena itu, studi dan perumusan strategi pengembangan wisata dinilai perlu melibatkan akademisi, ahli. Termasuk, praktisi yang tergabung dalam GIPI Jawa Barat sebagai mitra pemikiran Pemerintah Kota Bandung,” kata Herman Muchtar, Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia Jawa Barat.
Forum juga menyoroti perubahan citra pariwisata Bandung. Kota ini sebelumnya dikenal kuat sebagai destinasi wisata belanja dan kuliner.
Namun identitas tersebut dinilai mengalami penurunan. Para peserta mendorong adanya kajian mendalam untuk mengidentifikasi faktor penyebab. Sekaligus merumuskan strategi pemulihan citra wisata kota.
Sementara itu beberapa kawasan ikonik turut menjadi perhatian. Kawasan Pasar Baru yang dahulu menjadi pusat perbelanjaan unggulan dinilai mengalami penurunan daya tarik.
“Sehingga kondisi tersebut membutuhkan kajian serta strategi revitalisasi,” ungkap Herman.
Hal serupa juga terjadi pada Teras Cihampelas yang mengalami penurunan aktivitas pascapembangunan. Dan, memerlukan evaluasi menyeluruh agar kembali hidup sebagai destinasi wisata.
Selain itu, berhentinya kegiatan Braga Beken juga menjadi sorotan karena sebelumnya berkontribusi positif terhadap citra dan aktivitas wisata di pusat kota.
Atraksi Wisata

Kepala Badan Statistik Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati saat memaparkan data pariwisata di acara Coffee Morning III, Kamis 12 Februari 2026. (Foto: Kliknusae.com/Adhi)
Para pelaku industri berharap kegiatan serupa dapat dihidupkan kembali sebagai bagian dari penguatan atraksi wisata berbasis ruang publik.
Dalam aspek promosi, peserta Coffee Morning menilai promosi pariwisata tidak dapat hanya bergantung pada penyelenggaraan event berskala besar.
Melainkan harus dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan melalui berbagai kanal.
Faktor eksternal turut dibahas, termasuk tingginya harga tiket perjalanan domestik yang dinilai memengaruhi penurunan kunjungan wisatawan nusantara ke Bandung.
Sementara dari sisi aksesibilitas, keberadaan Bandara Husein Sastranegara dipandang tetap strategis sebagai pintu gerbang utama wisatawan.
Para pelaku industri menekankan pentingnya menjaga keberlangsungan operasional bandara.
Termasuk mempertahankan dan menambah frekuensi rute penerbangan agar tidak kembali dihentikan.
Ini mengingat dampaknya terhadap mobilitas wisatawan serta pergerakan ekonomi Kota Bandung.
Sedangkan melalui forum tersebut, Pemkot Bandung dan GIPI Jawa Barat sepakat bahwa penguatan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku industri menjadi kunci.
Utamanya, dalam mengembalikan daya tarik serta meningkatkan daya saing pariwisata Kota Bandung di masa mendatang. ***



