Sempat Terhenti 10 Tahun, Ramadan Festival Masjid Agung Kota Bandung Kembali Digelar
KLIKNUSAE.com – Setelah lebih dari satu dekade terhenti, Masjid Agung Bandung kembali menyalakan denyut Ramadan Festival.
Tahun ini, perhelatan itu bukan sekadar agenda seremonial, melainkan penanda kebangkitan syiar Ramadan yang lama redup.
Sekaligus diproyeksikan sebagai model bagi masjid-masjid lain di Bandung Raya.
Ketua Nadzir Masjid Agung Bandung, Roedy Wiranatakusumah, menyebut festival terakhir digelar sekitar 11 tahun lalu.
Sejak itu, halaman masjid terbesar di jantung kota ini lebih banyak diisi kegiatan rutin tanpa kemasan festival.
“Ini kick off. Dimulainya di sini,” ujar Roedy dalam konferensi pers di Media Center masjid, Selasa, 17 Februari 2026.
Menariknya, panitia tak menyematkan embel-embel nama masjid secara eksplisit dalam tajuk kegiatan.
Alasannya, festival ini dirancang sebagai proyek percontohan.
“Ini akan menjadi pilot project untuk masjid yang ada di Bandung Raya,” kata Roedy.
Semangatnya jelas, apa yang dimulai di alun-alun kota, menular ke penjuru wilayah.
Dari Tadarus hingga 30 Camat
Rangkaian kegiatan dibagi dua: di dalam dan luar masjid. Di ruang utama, agenda klasik Ramadan tetap menjadi tulang punggung.
Ada tadarus, kuliah subuh, pesantren kilat, serta kajian rutin sepanjang bulan puasa.
Namun ada sentuhan baru. Atas permintaan Wali Kota, seluruh camat dari 30 kecamatan di Kota Bandung dijadwalkan hadir bergiliran setiap hari.
Pemerintah kota ingin memastikan Ramadan di masjid ini benar-benar terasa sebagai milik bersama.
“Berarti ada 30 kecamatan, tiap hari di sini untuk meramaikan, memakmurkan Ramadan,” ujar Roedy.
Panitia juga menyiapkan buka puasa bersama dengan kapasitas sekitar 1.000 orang per hari.
Siapa pun bisa datang tanpa sekat sosial. Di ruang yang sama, pekerja informal, pegawai kantor, hingga wisatawan bercampur dalam satu hamparan sajadah.
Panggung di Selasar, UMKM di Pusat Kota
Sementara itu di luar ruang utama, festival dikemas lebih cair. Selasar masjid akan disulap menjadi panggung hiburan religi.
Lomba menggambar anak-anak, permainan keluarga, hingga pertunjukan musik bernuansa Islami disiapkan untuk menghidupkan suasana menjelang berbuka.
Sekitar 20–30 pelaku UMKM, sebagian merupakan binaan masjid, akan dilibatkan. Bagi Roedy, ini bukan sekadar keramaian musiman.
Masjid yang berdiri di pusat kota “puser Bandung”, katanya, punya daya tarik ekonomi tersendiri.
Arus pengunjung yang tak pernah benar-benar sepi menjadi peluang bagi sektor informal untuk bergerak.
“Setiap orang ke sini tidak ada perbedaan dengan berbagai latar sosial. Dampaknya tentu akan terasa pada sektor ekonomi,” ujarnya.
Menggandeng Sponsor dan Kampus
Sedangkan panitia membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya. Perbankan syariah dan perusahaan swasta diajak terlibat.
Baik dalam bentuk dukungan finansial maupun program. Roedy menyebut sudah ada dukungan dari CIMB Niaga Syariah, serta kolaborasi dengan Institut Teknologi Bandung (ITB). Termasuk rencana program sosial berbagi makanan dengan mobil layanan.
Konferensi pers, kata dia, sekaligus menjadi ajakan terbuka.
“Siapa yang mau berpartisipasi dari segi waktu, tenaga, finansial, sponsorship, silakan.”
Segitiga Kolaborasi
Festival ini juga digerakkan melalui kerja sama tiga pihak: Pemerintah Kota Bandung, Masjid Agung Bandung, dan Baznas Kota Bandung.
Baznas akan menghadirkan program pemberdayaan serta melibatkan UKM binaannya.
Di sisi lain, pemerintah kota melalui bagian kesejahteraan rakyat mengoordinasikan kehadiran para camat.
“Ini ada segitiga kerja sama. Pemkot dengan Kesra, camat akan diwajibkan hadir di sini, Baznas juga masuk ke sini,” ujar Roedy.
Bukan Sekadar Musiman
Bagi pengelola, Ramadan Festival 2026 bukan proyek sekali jalan. Mereka ingin menjadikannya agenda tahunan yang berkelanjutan.
Bahkan, setelah Ramadan usai, Masjid Agung Bandung diharapkan tetap hidup sebagai pusat aktivitas masyarakat.
“Kita ingin sustain, tidak hanya one shot. Setelah Ramadan pun harus tetap diisi,” kata Roedy.
Ramadan Festival dijadwalkan berlangsung sepanjang bulan puasa, dengan agenda outdoor utama pada awal hingga pertengahan Maret 2026.
Jika konsisten, festival ini bisa menjadi babak baru. Ketika masjid tak hanya menjadi ruang ibadah, tetapi juga simpul sosial dan ekonomi kota. ***



