Ridwan Kamil dan Aura Kasih, Refleksi Diri Sang Pemimpin

Oleh: Adhi M Sasono, Editor in Chief

Nama Ridwan Kamil pernah menjelma menjadi simbol pemimpin urban yang segar, cerdas, dan penuh imajinasi.

Dari kursi Wali Kota Bandung hingga Gubernur Jawa Barat, ia dipuja sebagai figur teknokrat yang piawai meramu estetika kota dengan sentuhan komunikasi publik yang memesona.

Sosoknya rapi, santun, dan “instagramable” seolah menjadi representasi harapan baru tentang pemimpin yang dekat dengan generasi digital.

Namun kekuasaan, sebagaimana sejarah berulang kali mencatat, selalu menyimpan pusaran.

Ia bukan hanya ruang untuk berkarya, melainkan juga medan uji bagi karakter.

Bagi sebagian orang, apa yang belakangan menimpa Ridwan Kamil telah menjadi semacam “hukuman sosial”.

Pengakuannya tentang hubungan asmara dengan Lisa Mariana mengguncang citra yang selama ini dibangun dengan begitu rapi. Publik yang dulu mengagungkan, mendadak mengadili.

Kisah ini menjadi ironi. Seorang pria yang dikenal brilian dalam menata kota, melahirkan karya-karya monumental, justru terjatuh bukan oleh kegagalan kebijakan.

Melainkan oleh perkara personal. Di sinilah adagium lama terasa relevan: semakin tinggi puncak kekuasaan, semakin deras adrenalin mengalir.

Kekuasaan memompa rasa percaya diri, membuka akses, memperluas peluang dan jika tak dikendalikan, ia juga memperbesar godaan.

Adrenalin itu candu. Ia membuat manusia merasa kebal, merasa selalu bisa mengatur narasi.

Rasionalitas dan religiositas bisa saja tersapu ketika euforia tak lagi dibatasi.

Dalam konteks ini, kejatuhan bukanlah semata akibat cinta terlarang, tetapi kegagalan mengelola diri di tengah sorotan.

Relasi Kuasa

Di sisi lain, ruang digital memperkeruh keadaan. Media sosial kerap menasbihkan asumsi sebagai kebenaran.

Isu-isu yang tak pernah diakui secara faktual, seperti rumor kedekatan dengan Aura Kasih, beredar liar dan dianggap seolah-olah sahih.

Di era ketika linimasa menjadi hakim, batas antara fakta dan gosip kerap mengabur. Publik yang dimabuk notifikasi sering kali tak lagi sabar menunggu klarifikasi.

Karena itu, yang sedang terjadi bukan hanya kisah tentang seorang tokoh, melainkan cermin tentang relasi kuasa, citra, dan moralitas di zaman digital.

Pemimpin hari ini tak cukup hanya cakap membangun infrastruktur. Ia juga harus mampu mengelola impuls, menjaga integritas personal, dan menyadari bahwa setiap langkahnya direkam, dinilai, dan diarsipkan.

Ridwan Kamil mungkin telah merasakan bagaimana cepatnya simpati berubah menjadi sinisme.

Namun lebih dari sekadar drama personal, peristiwa ini adalah pelajaran bagi siapa pun yang berada di pusaran kekuasaan. Mengendalikan adrenalin adalah kunci.

Kekuasaan yang digenggam tanpa kehati-hatian bukan saja bisa meruntuhkan reputasi, tetapi juga menggerus kepercayaan publik yang dibangun bertahun-tahun.

Pada akhirnya, sejarah tidak hanya mencatat karya, tetapi juga karakter. Dan dalam politik, karakter sering kali menjadi fondasi yang menentukan.

Apakah seseorang akan dikenang sebagai pembaharu atau sebagai peringatan. ***

Share this Post:

Berita Terkait

Berita Lainnya