Menbud Fadli Zon Dorong Keraton Sumedang Larang Jadi Episentrum Budaya Sunda

KLIKNUSAE.com – Di halaman Keraton Sumedang Larang, sejarah tidak sekadar dipajang, melainkan masih bernapas.

Bangunan-bangunan tua yang berdiri di jantung Kabupaten Sumedang itu menjadi saksi panjang perjalanan tanah Sunda. Dan pada kunjungan budaya pekan ini, perhatian pemerintah kembali tertuju ke sana.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyambangi kompleks Keraton Sumedang Larang, Sabtu lalu sebagai bagian dari upaya merawat memori kolektif kerajaan-kerajaan Sunda.

Kunjungan itu ia sebut sebagai langkah awal membangun kolaborasi lintas sektor. Yakni, untuk menjaga sekaligus menghidupkan kembali warisan budaya yang kerap terpinggirkan oleh arus pembangunan modern.

Menurut Fadli, Sumedang menyimpan modal kuat untuk berkembang menjadi destinasi budaya unggulan di Jawa Barat.

Bukan hanya karena keberadaan keraton, tetapi juga ragam situs sejarah dan objek pemajuan kebudayaan yang masih hidup di tengah masyarakat.

“Sumedang jangan hanya menjadi tempat persinggahan. Ia harus menjadi tujuan utama,” kata Fadli.

Menurutnya wisata budaya, sejarah, alam, religi, hingga kuliner bisa tumbuh beriringan dan memberi manfaat langsung bagi warga setempat.

Keraton Sumedang Larang, bagi Fadli, bukan sekadar situs masa lalu. Ia melihatnya sebagai episentrum pemajuan budaya Sunda.

Ruang tempat pengetahuan diwariskan, tradisi dijaga, dan generasi muda dilahirkan sebagai agen kebudayaan baru.

“Wilayah keraton atau kesultanan adalah tempat merawat, melindungi, dan memajukan kebudayaan. Di sana ada sejarah, nilai, dan kesinambungan,” ujarnya.

Sementara itu  Sri Radya Keraton Sumedang Larang, H.R.I. Lukman Soemadisoeria berpandangan sama. Ia menyatakan kesiapan pihak keraton untuk terlibat aktif dalam pemeliharaan aset budaya.

BACA JUGA: Benteng Palasari Sumedang Jadi Cagar Budaya Nasional, Ini Pesan Menteri Fadli Zon

Revitalisasi Keraton

Sekaligus ia berharap revitalisasi keraton-keraton Nusantara, termasuk Keraton Sumedang Larang, dapat segera direalisasikan.

Rangkaian kunjungan Fadli dimulai dari Bumi Kaler, bangunan yang dahulu menjadi kediaman bupati beserta keluarganya.

Dari sana, rombongan beranjak ke Museum Pusaka, Bale Seni, Gedung Gamelan, hingga Gedung Nagara Sumedang yang masih difungsikan sebagai rumah dinas Bupati Sumedang.

Di Museum Pusaka, perhatian Fadli tertuju pada Mahkota Binokasih. Pusaka utama Kerajaan Sumedang Larang.

Ia menyebut mahkota tersebut layak menjadi “masterpiece” yang menarik orang datang ke Sumedang.

“Seperti Louvre dengan Mona Lisa. Di Sumedang, Mahkota Binokasih bisa menjadi tujuan utama wisatawan,” katanya.

Keraton Sumedang Larang memang bukan sembarang keraton. Ia merupakan pusat pemerintahan bersejarah sekaligus simbol kejayaan Kerajaan Sumedang Larang, penerus sah Kerajaan Pajajaran.

Di kawasan yang kini dikenal sebagai Museum Prabu Geusan Ulun itu tersimpan beragam pusaka sakral.

Mulai dari  singgasana raja, senjata, naskah kuno, gamelan, hingga kereta kencana. Sebuah jejak peran strategis Sumedang dalam sejarah budaya Pasundan.

Sedangkan dalam kunjungan tersebut hadir sejumlah pejabat Kementerian Kebudayaan, pemerintah daerah, serta keluarga besar Keraton Sumedang Larang.

Mengakhiri rangkaian kunjungan, Fadli menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pihak keraton.

“Kita ingin ada kerja bersama, supaya Keraton Sumedang Larang dan situs-situs lain di Sumedang yang luar biasa potensial ini benar-benar hidup dan dikunjungi,” tutupnya. ***

Share this Post:

Berita Terkait

Berita Lainnya