Pabrik Garmen Tradisional China Beralih ke AI, Bikin Satu Jaket Hanya 3 Menit

KLIKNUSAE.com – Denting mesin pabrik garmen pintar di Bosideng Changshu, Provinsi Jiangsu terdengar nyaris tanpa jeda.

Musim dingin selalu menjadi puncak kesibukan industri garmen China itu.

Namun kali ini, lembur bukan lagi sekadar urusan tenaga manusia. Jalur produksi bergerak cepat, dipandu kecerdasan buatan (IA).

Dari kain mentah hingga jaket siap jual, prosesnya rampung hanya dalam tiga hingga empat menit.

Bosideng—produsen terkemuka di industri pakaian dalam China—menjadi contoh paling gamblang bagaimana manufaktur tradisional beralih wajah.

Solusi cerdas berbasis data besar dan AI memangkas waktu produksi secara drastis.

Sebuah jaket, yang dahulu membutuhkan alur panjang dan berlapis, kini lahir nyaris secepat kedipan mata.

Transformasi ini sejalan dengan janji pemerintah China. Dalam laporan kerja pemerintah 2025, Beijing menegaskan komitmennya mengawinkan teknologi digital dengan kekuatan manufaktur dan pasar domestik.

Negara itu mendorong penerapan luas model AI skala besar, pengembangan terminal cerdas generasi baru, serta peralatan manufaktur pintar.

Tekstil dan garmen—industri tua yang identik dengan padat karya—kini diarahkan menuju manufaktur kelas atas, cerdas, dan ramah lingkungan.

Kecerdasan di Dalam Pakaian

Sejak 2024, Bosideng mulai merombak proses desain warisannya.

“Kami membangun model riset dan pengembangan yang digerakkan AI dan data besar,” kata Wang Chenhua, Wakil Presiden Bosideng seperti dikutip dari Xinhua, Kamis 1 Januari 2026.

Bersama Universitas Zhejiang, perusahaan ini meluncurkan laboratorium inovasi dan aplikasi AI.

Hasilnya signifikan. Dengan algoritma generatif yang terus disempurnakan, waktu pengembangan prototipe menyusut dari 100 hari menjadi hanya 27 hari.

Biaya pembuatan sampel garmen pun turun lebih dari 60 persen. Kecerdasan buatan tak hanya mempercepat, tetapi juga menghemat.

Di sisi ritel, Bosideng menggandeng raksasa e-commerce JD.com. Try-on bertenaga AI dan siaran langsung dengan host digital diperkenalkan untuk membuat pengalaman belanja lebih efisien sekaligus atraktif.

Hingga akhir September, Bosideng telah mengantongi 1.520 paten—sebuah parit teknologi yang mengamankan inovasi intinya.

Jaket Bosideng kini dipasarkan di 72 negara. Total penjualan globalnya melampaui 200 juta keping, menandai skala industri yang tak lagi sekadar domestik.

Changshu sendiri adalah ekosistem raksasa. Lebih dari 5.000 perusahaan tekstil di kota ini memproduksi lebih dari 500 juta pakaian per tahun.

Sebagai pusat tekstil dan garmen global, pasar Changshu terhubung dengan 179 negara dan wilayah, mencatat omzet tahunan lebih dari 200 miliar yuan, baik daring maupun luring.

Pemerintah kota mendorong transformasi digital secara sistematis. Oktober lalu, Changshu merilis kertas putih pengembangan industri tekstil dan garmen berbasis AI.

Keputusan ini  sebagai peta jalan menuju peningkatan cerdas dan transisi digital.

Jalur Baru yang Muncul

Dorongan itu berskala nasional. Agustus lalu, China meluncurkan seperangkat pedoman “AI Plus” untuk menanamkan kecerdasan buatan ke berbagai sektor.

Tujuannya jelas: mentransformasi seluruh faktor produksi dan mempercepat peningkatan industri tradisional.

Sementara itu di Provinsi Shanxi, China utara, transformasi serupa terjadi di sektor yang sama tuanya: pertambangan batu bara.

Huayang Group, perusahaan tambang besar, mendirikan anak usaha material baru pada 2023.

Mereka memproduksi serat karbon kelas T1000—material ultra-kuat generasi terbaru—dengan proses yang hampir sepenuhnya otomatis.

Di laboratorium Huayang, data menunjukkan diameter filamen serat karbon tunggal tak sampai sepersepuluh rambut manusia.

Sedanglkam uji tarik mencatat kekuatan lebih dari 6.400 MPA.

“Kami membangun sistem pelacakan kualitas digital, visual, dan cerdas untuk memenangkan kepercayaan pasar high-end di sektor kedirgantaraan dan energi baru,” kata Ge Peng, Wakil Manajer Umum Huayang.

Mereka bahkan membidik “pabrik lampu-keluar”—operasi tanpa awak dengan pengambilan keputusan berbasis sistem.

Shanxi pun bergerak menjauh dari ketergantungan pada sumber daya mentah.

Hingga kini, provinsi itu telah meluncurkan 298 tambang batu bara pintar, dengan 83,5 persen kapasitas produksinya masuk kategori canggih.

Transformasi juga terlihat di Pangcun, pinggiran Kota Luoyang, Provinsi Henan.

Kotapraja ini dikenal sebagai basis industri furnitur baja China.

1.000 Varietas Furniture

Lebih dari 1.000 varietas furnitur baja dari Pangcun diekspor ke 120 negara, dengan nilai output tahunan melampaui 16 miliar yuan dan menguasai lebih dari 70 persen pasar nasional.

Di sini, AI dan Internet of Things menjadi tulang punggung.

“Solusi arsip pintar kami pada dasarnya adalah repositori ‘otak’ yang memungkinkan pengambilan cerdas dan peringatan otomatis,” ujar Zhou Xuguang, manajer umum salah satu perusahaan furnitur.

Pangcun kini menaungi puluhan perusahaan teknologi tinggi, dengan ribuan paten dan desain industri.

Dari jaket yang selesai dalam tiga menit hingga pabrik tanpa lampu, transformasi digital menyapu lantai-lantai produksi China.

Ini bukan sekadar soal efisiensi. Di balik deru mesin cerdas, China tengah menyalakan mesin baru inovasi. Termasuk, menegaskan kembali daya saing industrinya di panggung global. ***

Share this Post:

Berita Terkait

Berita Lainnya