Fery Ferdiansyah, Meracik Pengalaman di Tengah Ketatnya Kompetisi
KLIKNUSAE.com – Di balik dinamika industri perhotelan Kota Bandung yang belum sepenuhnya pulih, ada sosok yang memilih untuk tidak sekadar bertahan.
Dialah Fery Ferdiansyah. Sebagai General Manager Volume Hotel Pasteur sekaligus Wakil Ketua BPD PHRI Jawa Barat, ia membaca perubahan zaman bukan sebagai ancaman, melainkan peluang untuk beradaptasi.
Dalam sebuah perbincangn dengan Kliknusae.com baru-baru ini, ia berpandangan bahwa saat ini denyut industri masih terasa timpang.
Wisatawan memang kembali berdatangan, tetapi pergerakannya belum merata. Akhir pekan menjadi tumpuan, sementara hari kerja masih menyisakan tantangan besar.
Di sisi lain, melimpahnya pasokan kamar hotel di Bandung membuat persaingan semakin ketat, bahkan cenderung sensitif terhadap harga.
Namun, ia menolak terjebak dalam logika perang tarif.
“Mengisi kamar itu penting, tapi menjaga kesehatan industri jauh lebih penting,” begitu ia memegang prinsip.
Alih-alih menurunkan harga, ia memilih membangun diferensiasi.
Di Volume Hotel, ia meracik konsep boutique yang tidak sekadar menjual tempat menginap.
Setiap kamar didesain memiliki karakter berbeda. Menghadirkan pengalaman yang personal dan cerita yang bisa dibawa pulang oleh tamu.
Ia memahami, keputusan tamu hari ini tidak lagi semata soal harga, melainkan tentang pengalaman yang unik dan layak dibagikan.
Perubahan perilaku tamu menjadi bacaan penting dalam setiap strategi yang ia ambil. Tren pemesanan last-minute, sikap yang semakin selektif, hingga pergeseran makna staycation menjadi experience-driven.
Tantangan Industri
“Semua itu menuntut pendekatan baru. Hotel tidak lagi cukup hanya menjual fasilitas. Tetapi harus mampu membangun emosi dan koneksi,” ujarnya.
Di luar operasional hotel, ia juga melihat tantangan industri secara lebih luas. Ia meyakini bahwa kebangkitan pariwisata Bandung tidak bisa berjalan parsial.
“Ada tiga fondasi yang harus diperkuat, yakni pengalaman kreatif, konsistensi event, dan kemudahan akses,” ungkapnya.
Sebagai kota dengan kekuatan ekonomi kreatif, mulai dari kuliner hingga fesyen, Bandung sebenarnya memiliki modal besar.
Namun tanpa narasi yang terintegrasi, potensi itu akan terpecah. Ia mendorong kolaborasi lintas sektor seperti hotel, pelaku kreatif, hingga pemerintah.
Hal ini, untuk membangun Bandung sebagai “experience city”, bukan sekadar destinasi singgah.
Dalam hal promosi, Fery memilih bergerak mengikuti arus zaman. Pendekatan digital-first menjadi keniscayaan.
Storytelling, kolaborasi dengan kreator konten, hingga penguatan direct booking menjadi strategi yang ia dorong.
BACA JUGA: VOLUME HOTEL Pasteur Tawarkan 135 Kamar Bertema Musik dengan Sentuhan Eksklusif
Baginya, menjual kamar saja tidak cukup. Yang dijual adalah cerita dan pengalaman.
Namun di tengah berbagai upaya itu, ia tak menampik adanya hambatan struktural.
Belum optimalnya operasional Bandara Husein Sastranegara menjadi salah satu faktor yang berdampak langsung pada industri.
Bandara, dalam pandangannya, bukan sekadar fasilitas transportasi, melainkan gerbang utama pariwisata.
Tamu short trip
Sebagian arus wisatawan memang bergeser ke Bandara Internasional Kertajati. Tetapi aksesibilitas yang belum sepenuhnya ideal membuat perpindahan itu belum mampu menggantikan peran sebelumnya.
Dampaknya terasa nyata, terutama pada segmen tamu short trip dan korporasi.
Dalam posisinya sebagai bagian dari organisasi Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia, ia berharap pemerintah daerah dapat hadir lebih kuat.
Event berskala kota yang konsisten, stimulus bagi pelaku industri, hingga relaksasi pajak hotel menjadi kebutuhan mendesak untuk menjaga keberlanjutan usaha.
Ia juga menaruh perhatian besar pada peran MICE sebagai penggerak utama okupansi. Terutama di hari kerja.
Tanpa agenda yang terstruktur dan berkelanjutan, stabilitas tingkat hunian akan sulit dicapai.
Meski tantangan belum sepenuhnya reda, optimisme tetap ia jaga. Bandung, menurutnya, adalah kota dengan identitas kuat—kreatif, dinamis, dan selalu punya daya tarik.
Dengan perbaikan akses, kolaborasi yang solid, dan inovasi yang terus berjalan.
Fery percaya Bandung bukan hanya akan pulih, tetapi juga menemukan bentuk baru yang lebih relevan di masa depan.
Di tangan para pelaku industri yang adaptif seperti dirinya, perhotelan Bandung tampaknya tidak sekadar bertahan—tetapi sedang belajar untuk berevolusi. ***



