Cerita Dibalik Kunjung Peserta Rakernas I PHRI 2026 ke Museum Kereta Ambarawa

KLIKNUSAE.com – Rombongan peserta Rapat Kerja Nasional I Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (Rakernas I PHRI) 2026 membuka rangkaian kegiatan mereka dengan menengok sepotong sejarah perkeretaapian.

Mereka mengunjungi Museum Kereta Api Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Senin, 9 Februari 2026.

Di sela agenda konsolidasi organisasi, para pelaku industri perhotelan dan restoran itu sejenak turun dari ruang rapat menuju rel tua yang menyimpan romantika masa lalu.

Rombongan dipimpin langsung Ketua Umum PHRI Haryadi Sukamdani, didampingi Sekretaris Jenderal Maulana Yusran.

Dari Museum Kereta Api Ambarawa, para peserta Rakernas menjajal kereta wisata Ambarawa menuju Stasiun Tuntang.

Kereta tua yang ditarik lokomotif klasik itu melaju perlahan, membawa penumpangnya menembus lanskap pedesaan yang tenang. Hamparan sawah membentang di kanan-kiri rel.

Sementara itu, Stasiun Tuntang merupakan stasiun kereta api kelas III yang berada di Kecamatan Tuntang, wilayah perbatasan antara Kota Salatiga dan Kabupaten Semarang.

Terletak pada ketinggian sekitar 464 meter di atas permukaan laut, stasiun ini kini berada dalam pengelolaan KAI Wisata.

Bangunannya sederhana, tetapi menyimpan jejak penting jalur perkeretaapian lama yang dahulu menghubungkan wilayah-wilayah agraris di Jawa Tengah.

Peserta Rakernas I PHRI saat berada di Kereta Wisata Ambarawa. (Foto: Kliknusae.com/Adhi)

Rawa Pening

Perjalanan kian memikat ketika kereta melintas di tepi Rawa Pening, danau alami yang menjadi ikon lanskap Semarang Raya.

Dari balik jendela gerbong, para peserta Rakernas menyaksikan hamparan perairan yang dilingkari siluet Gunung Ungaran, Merbabu, dan Telomoyo.

Rawa Pening bukan sekadar panorama; kawasan ini juga hidup dalam cerita rakyat tentang legenda Baru Klinting.

Selain menjadi sumber penghidupan warga lewat perahu wisata dan kerajinan eceng gondok. Danau ini tengah menghadapi problem pendangkalan dan pencemaran yang kini dalam proses revitalisasi.

Bagi sebagian peserta, perjalanan singkat itu menjelma pengalaman personal. Direktur Eksekutif PHRI Jawa Barat, Yudi Permana, mengaku baru kali ini menikmati sisi lain Semarang dari rel kereta tua.

“Saya baru kali ini menikmati keindahan dari sisi lain Kota Semarang. Penuh nostalgia dengan menaiki kereta wisata ini,” katanya.

Studi tur tersebut menjadi penanda bahwa agenda Rakernas tak melulu soal rapat dan rekomendasi kebijakan.

Di sela diskusi tentang tantangan industri pariwisata dan perhotelan, para peserta diajak menyentuh langsung lanskap budaya.

Selaligus menelisik sejarah yang justru menjadi modal utama pariwisata itu sendiri. ***

Share this Post:

Berita Terkait

Berita Lainnya