Liburan Musim Dingin di Kebun Raya Nasional China, Spot Menarik Kuil Wofo
KLIKNUSAE.com – Kabut tipis menyelimuti pepohonan tua di Kebun Raya Nasional China, Beijing, saat suhu perlahan turun mendekati titik beku.
Di tengah lanskap musim dingin itu, Kuil Wofo atau Kuil Buddha Berbaring tampak semakin khidmat.
Lapisan embun beku yang melekat di atap dan ranting pinus menciptakan suasana sunyi yang berbeda dari hiruk-pikuk ibu kota China.
Musim dingin di Beijing mencapai puncaknya pada bulan kesebelas kalender lunar China, periode yang secara tradisional dikenal sebagai masa terdingin dalam setahun.
Angin dingin dari utara berembus membawa hawa kering, sementara warna alam berubah menjadi palet abu-abu, cokelat, dan hijau gelap.
Di Kuil Wofo, suasana ini justru menghadirkan ketenangan yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan dan peziarah.
Langkah kaki pengunjung terdengar jelas di atas jalan setapak berbatu yang lembap. Beberapa orang mengenakan mantel tebal, syal wol, dan topi rajut.
Berhenti sejenak untuk mengabadikan pemandangan pagoda kuno yang diselimuti udara dingin.
Kuil Wofo
Asap tipis dari dupa yang dinyalakan di altar bercampur dengan napas para peziarah. Menciptakan kontras hangat di tengah dinginnya musim.
Kuil Wofo, yang berdiri sejak lebih dari seribu tahun lalu, seakan menemukan ritme alaminya di musim dingin.
Tanpa keramaian berlebih seperti di musim semi atau panas, pengunjung dapat menikmati detail arsitektur dan suasana spiritual dengan lebih intim.
Patung Buddha berbaring yang menjadi ikon kuil tampak semakin megah di bawah cahaya musim dingin yang lembut.
Meski urbanisasi dan pertanian modern telah melemahkan dampak istilah-istilah matahari.Penanda musim dalam kalender tradisional China.
Pada kehidupan sehari-hari, jejaknya masih terasa kuat dalam kebiasaan budaya.
Tradisi Kuliner
Masyarakat China tetap mengenali bulan kesebelas lunar sebagai masa untuk menjaga kehangatan tubuh, memperlambat aktivitas, dan berkumpul bersama keluarga.
Sementara itu tradisi kuliner pun menjadi bagian penting dari musim ini. Di sekitar kawasan kebun raya, pedagang kecil menjajakan minuman hangat.
Termasuk, camilan tradisional yang dipercaya membantu tubuh melawan dingin.
Kebiasaan tersebut diwariskan dari generasi ke generasi, menjadi pengingat bahwa hubungan manusia dengan musim tidak sepenuhnya hilang, meski zaman telah berubah.
Sedankan di Kuil Wofo, musim dingin bukan sekadar soal suhu rendah. Ia menjadi momen perenungan—tentang alam, tradisi, dan waktu yang terus berjalan.
Di tengah Beijing yang terus berkembang, suasana liburan musim dingin di kuil ini menghadirkan jeda sejenak.
Ruang sunyi untuk menyelaraskan diri dengan warisan budaya yang tetap hidup di bawah selimut udara dingin. ***



