Cara Pemerintah Yogyakarta Mengucapkan Terima Kasih Kepada Wisatawan

KLIKNUSAE.com – Di tengah riuh laporan akhir tahun yang lazimnya dipenuhi deret angka, beberapa juta wisatawan datang, berapa triliun rupiah perputaran ekonomi, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta memilih jalan yang sunyi namun mengena, mengucapkan terima kasih.

Ucapan itu tidak disampaikan lewat podium resmi atau konferensi pers.

Ia meluncur sederhana, hangat, dan bersahaja melalui unggahan media sosial resmi Pemda DIY. Tepat di penghujung libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.

Kalimat-kalimatnya mengalir bak oasis di padang pasir komunikasi birokrasi yang selama ini kering dari sentuhan rasa.

“Matur nuwun kepada Sedulur wisatawan semua yang telah berkunjung ke Yogyakarta,” tulis akun @humasjogja, Minggu 4 Januari 2025.

Tak berlebihan jika unggahan itu terasa istimewa. Sebab, jarang sekali pemerintah daerah di Indonesia berhenti sejenak dari kalkulasi statistik untuk menyapa manusia di balik angka.

Yogyakarta justru memilih memuliakan kehadiran para pelancong sebagai sedulur (keluarga) bukan sekadar komoditas pariwisata.

Dalam pesan itu, Pemda DIY juga menyampaikan permohonan maaf dengan nada rendah hati.

“Mohon maaf atas segala kekurangan. Kami sadar, tak selalu sambutan dan pelayanan kami sempurna.”

Pengakuan yang jujur. Tanpa dalih. Tanpa pembenaran. Sebuah sikap yang terasa sejalan dengan watak Yogyakarta, eling lan andhap asor (sadar diri dan bersahaja).

Namun pesan itu tak berhenti pada penyesalan. Ada janji yang disampaikan dengan ketulusan khas kota budaya ini.

BACA JUGA: Ini Alasan Wisatawan Pilih Yogyakarta, Salah Satunya Gak Digetok Parkir

Meninggalkan kenangan baik

“Namun percayalah, ketulusan kami selalu utuh dalam setiap senyum dan langkah menyambut Sedulur semua.”

Yogyakarta seakan ingin mengatakan bahwa pariwisata bukan semata urusan destinasi dan fasilitas, melainkan perjumpaan antarmanusia.

Tentang senyum pedagang angkringan, sapaan ramah warga kampung, hingga kesabaran para pelaku wisata yang tetap melayani di tengah padatnya libur panjang.

Di bagian akhir, Pemda DIY menutup pesannya dengan harapan yang sederhana namun dalam.

“Semoga Daerah Istimewa Yogyakarta meninggalkan kenangan baik di hati, dan kelak kita dipertemukan kembali.”

Bukan janji bombastis. Bukan promosi berlebihan. Hanya doa agar Yogyakarta tinggal lama dalam ingatan.

Dan suatu hari nanti, para sedulur wisatawan kembali pulang, bukan sebagai tamu, tetapi sebagai bagian dari cerita kota ini.

Di saat banyak daerah sibuk menghitung, Yogyakarta memilih mengingat. Dan barangkali, justru itulah yang membuatnya selalu dirindukan. ***

Share this Post:

Berita Terkait

Berita Lainnya