Hujan, Orkestra, dan Ribuan Penonton yang Tak Bergeming di Forestra 2025
KLIKNUSAE.com – Sabtu malam, 30 Agustus 2025, hutan pinus Orchid Forest Cikole, Lembang, menjadi saksi betapa musik bisa menaklukkan dingin dan derasnya hujan.
Sekitar 5.000 orang memadati area berundak di tengah rimbunnya pinus.
Mereka rela basah kuyup demi menyaksikan gelaran musik lintas genre terbesar di tengah hutan, Forestra 2025.
Sore hari, suasana masih teduh ketika The Panturas membuka panggung tepat pukul 16.30 WIB.
Ratusan kamera ponsel terangkat, menangkap momen kala band surf-rock itu mengalun di antara pepohonan yang berdesir.
Namun menjelang magrib, langit berubah muram. Hujan deras memaksa pertunjukan dihentikan sejenak.
Penonton berlarian mencari jas hujan, sebagian tetap berdiri teguh di kursi undagan, menatap panggung yang dibiarkan gelap.
Malam kian larut, hujan tak juga berhenti. Justru ketika acara seremonial pembukaan digelar, air kembali turun membasahi panggung dan para musisi.

Kabut dan hujan rintik-rintik menyertai konser musik Erwin Gutawa dan Jay Subiakto di Orchid Forest Cikole Lembang, Sabtu malam 30 Agustus 2025. (Foto: Kliknusae.com/Adhi)
Namun tak seorang pun di antara ribuan penonton beranjak pulang.
“Kita tetap di sini. Musik akan jalan terus,” ucap seorang penonton sambil mengencangkan jaketnya, senyumnya tak surut meski rambutnya basah kuyup.
Suasana hening sejenak ketika Maulana Akbar, atau yang akrab disapa Barry Akbar, mengajak seluruh penonton berdoa untuk negeri.
Doa Untuk Negeri
“Kondisi negara kita sedang tidak baik-baik saja. Mari kita mengheningkan cipta, semoga negeri ini terbebas dari bencana,” ucapnya.
Ribuan orang terdiam, hanya suara rintik hujan yang terdengar.
Tak lama kemudian, dua sosok penting melangkah ke panggung, Erwin Gutawa dan Jay Subiakto.
Sambutan tepuk tangan membahana, seolah menghapus dingin yang menggigit.
Erwin dengan tenang meminta maaf karena pertunjukan tak mungkin berjalan sesuai jadwal.

Meski sempat tertunda beberapa jam akibat turun hujan, event musik Forestra 2025 tetap berjalan dan membuat penonton tetap menikmati alunan masuk orkestra di tengah hutan Cikole, Sabtu malam, 30 Agustus 2025. (Foto: Kliknusae.com/Adhi)
“Banyak alat musik terbuat dari kayu, kami harus pastikan semua aman. Tapi tenang, tidak ada lagu yang dipotong,” katanya. Penonton pun bersorak, memberi dukungan penuh.
Jay Subiakto menambahkan harapan, berdasarkan prediksi cuaca hujan akan berhenti pukul 20.30.
Dan benar saja, tepat di waktu itu, langit seakan berpihak. Hujan reda, kabut tipis menyelimuti hutan, dan lampu-lampu panggung kembali menyala terang.
Sorak-sorai membahana, seperti kemenangan bersama.
Ketika Erwin Gutawa Orchestra mulai memainkan nada pembuka, suasana berubah magis.
Ribuan penonton yang sebelumnya bertahan dalam dingin dan basah, kini larut dalam harmoni kolaborasi megah bersama musisi lintas generasi, Reza Artamevia, Sal Priadi, Voice of Baceprot, The Sigit, Bernadya, Raja Kirik, hingga Ensemble Tikoro.
Seakan semua penantian panjang itu terbayar lunas.
Di tengah dingin hutan, musik menjelma jadi api yang menghangatkan. Setiap nada bukan sekadar hiburan, melainkan pengikat emosi. Membuat penonton merasa hadir dalam sebuah momen bersejarah.
Bahkan saat Iksan Skuter, The Panturas, dan Oom Leo Berkaraoke tampil penuh energi, ribuan orang itu tetap enggan beranjak.
Malam itu, hujan, kabut, dan musik berpadu jadi cerita. Forestra 2025 bukan hanya soal konser di tengah hutan. Melainkan tentang kesetiaan penonton yang rela basah demi menyatu dalam sebuah pengalaman kolektif. Bahwa musik mampu membuat orang bergeming, meski langit sekalipun menantangnya. ***